twitter


Gangguan Ortopedik
Keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak dikarenakan adanya masalah di otot, tulang, atau sendi. Hal tersebut disebabkan oleh problem prenatal (dalam kandungan) atau perinatal (menjelang atau sesudah kelahiran), atau karena penyakit atau kecelakaan saat anak-anak.
1. Cerebral Palsy
Gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah, dan goyah (shaking), atau bicaranya tidak jelas. Penyebab umumnya adalah kekurangan oksigen saat kelahiran. Secara umum Cerebral Palsy dikelompokkan dalam empat jenis yaitu:
• Spastik (tipe kaku-kaku) dialami saat penderita terlalu lemah atau terlalu kaku. Jenis ini adalah jenis yang paling sering muncul. Sekitar 65 persen penderita lumpuh otak masuk dalam tipe ini.
• Atetoid terjadi dimana penderita yang tidak bisa mengontrol gerak ototnya, biasanya mereka punya gerakan atau posisi tubuh yang aneh.
• Kombinasi adalah campuran spastic dan athetoid.
• Hipotonis terjadi pada anak-anak dengan otot-otot yang sangat lemah sehingga seluruh tubuh selalu terkulai. Biasanya berkembang menjadi spastic atau athetoid.
Gejala-gejala yang ditimbulkan anak Cerebral Palsy adalah gangguan pada perkembangan motoriknya dan gangguan pada kognisi. Gangguan perkembangan motorik antara lain si anak tidak mampu mempertahankan posisi tubuh tertentu dan anak sulit berdiri atau berjalan karena tonus otot lemah atau berlebih. Karakteristik gaya belajar anak Cerebral Palsy terpengaruh akan gangguan kognisi yang dialaminya. Gangguan kognisi tersebut antara lain:

• Tidak mampu memahami aturan yang ada di lingkungannya.
• Tidak memahami fungsi suatu benda.
• Tidak mampu menggunakan benda-benda atau mainan secara benar.
• Kesulitan dalam mengingat sesuatu hal atau kejadian.
• Tingkat kecerdasan tidak sesuai dengan anak seusianya.

Pada tipe yang kurang lazim, seperti ataxia, otot anak menjadi kaku pada satu waktu lalu kendur pada waktu yang lain sehingga gerakan anak menjadi aneh dan lucu. Dalam proses belajarnya, anak yang mengalami gangguan ini bisa dibantu oleh komputer, dimana anak bisa melakukan koordinasi untuk menggunakan keyboard agar bisa mengerjakan kegiatan tulis menulis di komputer. Selain itu banyak anak penderita Cerebral Palsy yang bicaranya tidak jelas. Synthesizer suara dan ucapan, papan komunikasi, serta peralatan talking notes dan page turners dapat meningkatkan kemampuan komunikasi pada anak tersebut.

2. Gangguan kejang-kejang
Jenis yang paling banyak dijumpai adalah epilepsi, gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensori motor atau kejang-kejang. Epilepsi muncul dalam beberapa bentuk berbeda (Barr, 2000; Resag, 2002). Jenis epilepsi meliputi:
• absent seizures/ Peti Mal, anak mengalami kejang-kejang dalam durasi singkat (kurang dari 30 detik) tetapi bisa terjadi beberapa kali sampai seratus kali dalam sehari, dimana selama waktu serangan ini penderita merasakan beberapa kontraksi otot seperti sentakan (twitch-like), biasanya di daerah kepala, terutama pengedipan mata.. Sering kali kemunculannya sangat singkat, atau kadang-kadang ditandai dengan gerakan tertentu seperti mengangkat alis.
• Tonic-clonic/ Grand Mal, anak akan kehilangan kesadarannya dan menjadi kaku, gemetar dan bertingkah aneh. Ditandai dengan timbulnya lepas muatan listrik yang berlebihan dari neuron di seluruh area otak di korteks, di bagian dalam serebrum dan bahkan di batang otak dan thalamus. Bila parah bisa berlangsung selama tiga sampai empat menit.
Anak yang mengalami epilepsi biasanya dirawat dengan obat anti kejang, yang biasanya efektif dalam mengurangi gejala tapi tidak menghilangkan penyakitnya. Jika sedang tidak kambuh, anak yang menderita gangguan ini akan berperilaku normal. Sesungguhnya 80% pasien epilepsi anak-anak mempunyai kemampuan intelektual yang normal dan dapat mengikuti sekolah biasa. Kasus-kasus dengan taraf kecerdasan rendah umumnya diderita oleh pasien epilepsi yang mempunyai cacat lain. Dengan begitu karakteristik belajar anak yang menderita gangguan ini sama seperti anak normal lainnya. Anak memiliki kemampuan intelek yang normal dan dapat bersekolah di sekolah biasa. Namun terkadang anak-anak tersebut mendapat serangan epilepsi mendadak yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya dan dapat pula menunjukkan perubahan kecerdasan, tingkah laku yang abnormal, konsentrasi yang menurun atau kesulitan menerima mata pelajaran tertentu

0 komentar:

Posting Komentar